Dampak Covid 19 terhadap Pengangguran di Kota Banjarmasin

Pandemi Corvid 19 memberikan dampak yang sangat luas bagi kehidupan kita. Pertama Pandemi wabah covid 19 menimbulkan dampak yang luar biasa bagi perekonomian dunia, nasional dan daerah. Dengan adanya pandemi ini, maka ekonomi Kota Banjarmasin sangat terdampak terutama sektor-sektor seperti Perhotelan, Restoran, Angkutan Udara, darat dan Laut, Perdagangan Besar dan Eceran. Oleh karena itu, tingkat pengangguran langsung meningkat karena banyak perusahaan perhotelan yang merumahkan (lay off) para karyawan mereka, karena sebagian besar Hotel-hotel berhenti beroperasi, akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar di berbagai daerah dan termasuk Kota Banjarmasin untuk memutus rantai penularan pandemic covid 19. Sementara sektor lainnya seperti restoran dan rumah makan juga langsung mengalami penurunan penjualan akibat diminta untuk tidak menyediakan makan di tempat, tetapi hanya berjualan untuk dibawa pulang atau melalui pengantaran. Dengan demikian, terjadi penurunan permintaan yang sangat signifikan.

Yes, We are in The Same Storm, But We are not in The Same Boat

Viral video amatir tragedi seorang pedagang cabe di Sulawesi Tengah yang tidak terima dilarang melewati pelintasan pos PSBB antar kabupaten. Ia merasa diperlakukan tidak adil terlebih juga mendapat serangan pukulan dan terjangan dari oknum petugas.

Terlepas dari masalah ketidak adilan perlakuan yang diterimanya, secara gamblang ini menunjukkan adanya hasrat yang besar dari sekelompok masyarakat untuk terus melakukan kegiatan ekonominya ditengah wabah Covid-19. Kadang kita ikut mencela orang-orang yang tidak mau patuh pada peraturan pembatasan aktifitas keluar rumah ini. Tetapi perlu disadari pula ternyata banyak orang yang terpaksa melakukannya karena tuntutan hidup.

Mengapa Tingkat Pengangguran Terbuka di Perkotaan Tinggi?

Tingkat pengangguran di Kota Banjarmasin adalah paling tinggi dari seluruh daerah di Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 2019, Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT Kota Banjarmasin mencapai 7,69 persen lebih tinggi dari Tingkat Pengangguran terbuka provinsi yang mencapai 4,50 persen. Mengapa hal ini dapat terjadi dan bagaimana menguranginya?

Mengungkit Transformasi Ekonomi Kalimantan Selatan: dari Sektor Primer ke Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Dalam industri pariwisata, posisi Kalimantan Selatan tidaklah seperti Bali yang menjadikannya sebagai sektor andalan. Perekonomian Kalimantan Selatan masih bertumpu pada sektor pertambangan yang tengah menghadapi penurunan permintaan global. Pelemahan kinerja sektor pertambangan ini terindikasi dari perlambatan pertumbuhan ekspor batubara yang terkontraksi sebesar 3,95% (yoy) lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya (Tw III 2019) terkontraksi sebesar 0,52% (yoy). Ini mengisyaratkan sudah saatnya Kalimantan Selatan mulai merubah tumpuan ekonominya dari sektor primer ke sektor industri pengolahan dan jasa. Pariwisata adalah salah satu sektor yang perlu dipertimbangkan.

Jalan Terjal Mewujudkan Transformasi Ekonomi di Kalimantan Selatan

Salah satu hal terpenting dalam pembahasan struktur ekonomi Kalimantan Selatan adalah adakah kemungkinannya untuk beralih dari terkosentrasi pada sector pertambangan ke sektor lainnya. Keinginan ini sudah lama digaungkan dan tertulis jelas dalam arah pembangunan jangka panjang Kalsel (RPJP 2005-2025). Baru-baru ini Pemerintah Provinsi menyatakan kembali bertekad untuk lepas dari ketergantungan akan sektor pertambangan batu bara dan beralih ke sektor pariwisata berbasis budaya. Persoalannya adalah bagaimana realiasainya dan tantangannya pada tingkat implementasi.

Ketika Pasar Tradisional Terdisrupsi (Bagian I)

Pasar tradisional adalah urat nadi perekonomian. Sebagian besar anggota masyarakat berbelanja di sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak sedikit pula rumah tangga yang menggantungkan mata pencahariannya di pasar tradisional baik sebagai pedagang, penjual jasa, maupun sebagai pekerja kasar. Namun peran tersebut mulai menurun. Pasar tradisional sekarang dihimpit disrupsi dari dua sisi, yaitu pasar modern dan pasar retail online. Mengapa pasar tradisional kesulitan menghadapi disrupsi tersebut? Bagian pertama tulisan singkat ini mencoba mengulas pasar tradisional dari sisi penawaran (supply) dengan mengangkat studi kasus pasar tradisional di Kota Banjarmasin.

Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Tertinggal di Kawasan ASEAN

Produktivitas tenaga kerja merupakan hal yang sangat krusial dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi terutama ketika pertumbuhan yang lebih tinggi kian sulit diraih tanpa input yang lebih besar. Karena itu peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah salah satu faktor penting mencapainya pada masa yang akan datang. Produktivitas tenaga kerja ini dapat diukur dengan nilai rata-rata yang dapat dihasilkan seorang pekerja per jam dalam US Dolar.

Memindahkan Ketergantung Ekonomi dari Sumber Daya Alam ke Sumber Daya Manusia

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Selatan mengalami pelambatan cukup drastis sejak periode 2011-2012. Meskipun sedikit menaik pada 2015-2016, namun kemudian pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan melemah lagi pada 2017-2018. Kondisi ini terjadi karena jatuhnya harga komoditi ekspor andalan Kalimantan Selatan di pasar global, khususnya harga batubara dan CPO. Fakta ini menunjukkan pertumbuhan yang bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam (SDA), khususnya ekspor bahan mentah, tidak akan sustainable (berkelanjutan). Ketergantungan tersebut menyebabkan perekonomian rawan terhadap goncangan di pasar global.