Pandemi Covid-19, Disrupsi dan Digitalisasi Pasar Tradisional

Ketika Pasar Tradisional Terdisrupsi (Bagian II) Oleh: Hidayatullah Muttaqin Dalam artikel “Ketika Pasar Tradisional Terdisrupsi (Bagian I)” yang ditulis sebelum pandemi Covid-19 menyelimuti Indonesia, saya mengemukakan pasar tradisional baca lebih lanjut …

Ketika Pasar Tradisional Terdisrupsi (Bagian I)

Pasar tradisional adalah urat nadi perekonomian. Sebagian besar anggota masyarakat berbelanja di sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak sedikit pula rumah tangga yang menggantungkan mata pencahariannya di pasar tradisional baik sebagai pedagang, penjual jasa, maupun sebagai pekerja kasar. Namun peran tersebut mulai menurun. Pasar tradisional sekarang dihimpit disrupsi dari dua sisi, yaitu pasar modern dan pasar retail online. Mengapa pasar tradisional kesulitan menghadapi disrupsi tersebut? Bagian pertama tulisan singkat ini mencoba mengulas pasar tradisional dari sisi penawaran (supply) dengan mengangkat studi kasus pasar tradisional di Kota Banjarmasin.

Urgensi Strategi Memitigasi Dampak Negatif Disrupsi Teknologi

Dalam acara Diskusi Ekonomi Bulanan yang mengangkat tema Disrupsi Teknologi pada 28 Maret yang lalu, Hidayatullah Muttaqin mengemukakan bahwa satu sisi perkembangan teknologi memudahkan urusan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Di sisi lain teknologi tersebut semakin menekan jumlah penggunaan tenaga manusia dalam kegiatan produksi, perdagangan, dan jasa. Disrupsi teknologi juga berpotensi meningkatkan kesenjangan pendapatan antara high-skilled labour dan low-skilled labour.

Profil Hidayatullah Muttaqin

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen tetap di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat sejak tahun 2005. Pendidikan S1 bidang Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan diperoleh dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tahun 2002 dan master dalam ilmu ekonomi Islam dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada tahun 2008. Ia juga mendapatkan pendidikan master dalam bidang ekonomi pembangunan dari Universitas Birmingham pada tahun 2018, termasuk pendidikan non gelar local economic development dari The Hague Academy for Local Governance di Belanda pada tahun 2014.