Oleh: Noor Rahmini
Dalam industri pariwisata, posisi Kalimantan Selatan tidaklah seperti Bali yang menjadikannya sebagai sektor andalan. Perekonomian Kalimantan Selatan masih bertumpu pada sektor pertambangan yang tengah menghadapi penurunan permintaan global. Pelemahan kinerja sektor pertambangan ini terindikasi dari perlambatan pertumbuhan ekspor batubara yang terkontraksi sebesar 3,95% (yoy) lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya (Tw III 2019) terkontraksi sebesar 0,52% (yoy). Ini mengisyaratkan sudah saatnya Kalimantan Selatan mulai merubah tumpuan dan mentransformasi ekonominya dari sektor primer ke sektor industri pengolahan dan jasa. Pariwisata dan ekonomi kreatif adalah salah satu sektor yang perlu dipertimbangkan.
Pengembangan sektor pariwisata akan mendorong industri ekonomi kreatif dan menarik sektor-sektor lainnya seperti transportasi, akomodasi, dan rumah makan. Pengembangan sektor ini juga dapat mengungkit ekonomi rakyat. Masyarakat pun akhirnya mempunyai rasa “memiliki” dalam dunia pariwisata. Terdapat banyak contoh kemajuan sektor pariwisata di daerah lain berdampak pada peningkatan permintaan sektor lain seperti pertanian. Sehingga terjadi sinergi dikedua sektor tersebut.
Konsep “Wonderful Indonesia” yang di usung Kementrian Pariwisata yang diterjemahkan di tempat kita menjadi “Wonderful Kalsel, the Legend of Borneo” diharapkan tidak hanya berupa narasi saja. Pemerintah daerah harus berbenah, melahirkan berbagai regulasi untuk penciptaan iklim yang kondusif bagi industri pariwisata, memancing investor untuk mau bergerak masuk, disertai dengan pengadaan sarana dan prasarana yang mendukung. Hal ini diperlukan agar sektor pariwisata Kalimantan Selatan dapat tumbuh dan bergeliat.
Beberapa masalah terkait sektor pariwisata yang harus dibenahi adalah kekurangan pada sarana dan prasarana, Sumber Daya Manusia (SDM), kebijakan dan Regulasi, pemanfaatan teknologi informasi, dan kesadaran akan sapta pesona dan investasi yang masih rendah. Permasalahan tersebut relatif sama dengan kondisi yang dihadapi oleh sektor ekonomi kreatif, yaitu problem Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi, pemasaran, akses dan pembiayaan, kelembagaan, dan kebijakan.
Persoalan-persoalan di atas yang menyebabkan sektor pariwisata Kalimantan Selatan berkembang secara lambat. Jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, maka kita kalah dan tertinggal jauh. Padahal dari sisi budaya, kita masih serumpun. Padahal potensi keindahan alam Kalimantan lebih besar untuk pariwisata. Namun nyatanya kita tertinggal.
Kompleksnya permasalahan membuat daerah harus segera berbenah. Jangan hanya terlena dengan limpahan kekayaan alam yang mudah didapatkan. Pemerintah harus menyusun grand design dan road map, mendengar masukan dari pelaku pariwisata dan masyarakat sehingga pelaku pariwisata bisa fokus sesuai fungsinya masing-masing memajukan pariwisata. Tentunya kerja keras yang dilakukan semua pihak yang terkait tertuju pada peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. []
Noor Rahmini adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB ULM. Profil penulis dapat dibaca di sini https://iesp.ulm.ac.id/noor-rahmini/
