Apakah Indonesia Mengalami Kutukan Sumber Daya Alam?

Oleh: Hidayatullah Muttaqin

Pada Konferensi IRSA ke 15 22-23 Juli 2019 yang lalu, Saya mempresentasikan hasil penelitian dengan judul The Impact of Agriculture and Mining Sectors on Regional Income Inequality and Poverty Rates in Indonesia. Penelitian ini mengenai bagaimana dampak sektor pertanian dan pertambangan dalam PDRB terhadap ketimpangan dan kemiskinan regional di Indonesia. Terkait kemiskinan, hasil penelitian menunjukkan kedua sektor tersebut memiliki arah dampak yang sama, yaitu peningkatan kedua sektor tersebut dalam struktur ekonomi regional dapat menaikkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Apakah hasil penelitian ini menunjukkan kita terkena kutukan sumber daya alam (resource curse) ?

Penelitian ini menggunakan data panel dengan nilai sharing Sektor Pertanian dan Pertambangan dalam PDRB pada tingkat provinsi sebagai variabel independen. Model pertama dengan Indeks Gini sebagai variabel dependen, data panelnya meliputi 31 provinsi dan periode selama 12 tahun (2005, 2007-2017). Sesuai hasil dari sejumleh tes yang perlu dilakukan, model pertama mengadopsi Random Effect Model (REM). Sedangkan pada model kedua dengan Tingkat Kemiskinan sebagai variabel dependen, data panel yang digunakan meliputi 30 provinsi dengan rentang waktu 16 tahun (2002-2017). Teknik terbaik untuk model ini adalah Fixed Effect Model (FEM).

Hasil tes pada model pertama menunjukkan meski model siknifikan tetapi nilai koefisien determinasinya sangat kecil, yaitu hanya 0.08. Artinya variabel Indeks Gini hanya dapat dijelaskan oleh variabel Sektor Pertanian dan Pertambangan kurang lebih 8% saja. Sedangkan arah dampak kedua sektor tersebut terhadap Indeks Gini adalah negatif. Hanya saja untuk Sektor Pertambangan selain magnitude-nya kecil, yaitu -0.006 juga tidak siknifikan baik pada tingkat alpha 1%, 5%, dan 10%. Adapun variabel sektor pertanian nilai magnitude-nya -0.186 dan siknifikan pada tingkat alpha 1%. Hasil model ini menunjukkan perlunya penelitian selanjutnya dengan penambahan satu atau lebih variabel independen yang secara teori dapat berdampak terhadap ketimpangan pendapatan.

Tes pada model kedua dengan variabel Tingkat Kemiskinan membuktikan model siknifikan dengan R square sebesar 0.421. Kedua variabel independen juga siknifikan pada alpha 1% dan memiliki arah dampak yang sama. Nilai koefisien variabel sektor pertambangan adalah 0.289 sedangkan sektor pertanian 0.626.

Hasil model kedua ini memberikan gambaran kepada kita bahwa jika Sektor Pertanian dan Pertambangan dalam PDRB meningkat, maka dampaknya adalah bertambahnya Tingkat Kemiskinan regional di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa peningkatan peran kedua sektor tersebut dalam struktur ekonomi mendorong naiknya permasalahan kemiskinan?

Dugaan sementara salah satunya adalah terkait dengan nilai produktivitas yang dihasilkan oleh kedua sektor tersebut rendah. Nilai produktivitas yang rendah menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan yang diperoleh rumah tangga yang bekerja di kedua sektor tersebut. Akibatnya kemiskinan akan bertambah jika semakin banyak rumah tangga yang kehidupannya bergantung pada Sektor Pertanian dan Pertambangan.

Hasil model kedua ini juga selaras dengan teori kutukan sumber daya alam (resource curse) yang menggambarkan fenomena negara-negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah mengalami kondisi ekonomi dan pembangunan yang lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam. Kebergantungan Indonesia pada sumber daya alam seperti Sektor Pertanian dan Pertambangan untuk menghasilkan pendapatan tanpa disertai dengan peningkatan produktivitas dan penciptaan nilai tambah merupakan faktor fundamental terjebaknya negara kita dalam kutukan sumber daya alam. []

Hidayatullah Muttaqin adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB ULM. Profil penulis dapat dibaca di sini https://iesp.ulm.ac.id/hidayatullah-muttaqin/