APBD Provinsi Kalimantan Selatan 2019 mengalami kenaikan sebesar 6,22 persen, yaitu dari Rp6 trilyun pada APBD 2018 menjadi Rp6,3 trilyun. Kenaikan APBD tersebut ditopang oleh baca lebih lanjut …
Program Studi Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat
APBD Provinsi Kalimantan Selatan 2019 mengalami kenaikan sebesar 6,22 persen, yaitu dari Rp6 trilyun pada APBD 2018 menjadi Rp6,3 trilyun. Kenaikan APBD tersebut ditopang oleh baca lebih lanjut …
Saat ini Indonesia telah menikmati bonus demografi. Menurut BPS (2012), diperkirakan bonus demografi tersebut akan mencapai puncaknya pada periode 2025. Akankah bonus demografi Indonesia memberikan keuntungan ekonomi? Dosen Jurusan IESP yang mengampu mata kuliah Ekonomi Kependudukan dan Ekonomi Sumber Daya Manusia (ESDM) Rusdiansyah memberikan ulasannya mengenai hal tersebut.
Syahrituah Siregar dalam acara Diskusi Ekonomi Bulanan dengan tema Outlook Ekonomi Kalimantan Selatan menyampaikan perlunya sebuah milestone kebijakan ekonomi daerah untuk membangunkan raksasa tidur. Untuk itu harus ada komitmen yang kuat dan keberpihakan dalam menciptakan inovasi kebijakan yang akan dijadikan milestone. Tujuannya adalah agar menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik.
Ahmad Yunani menjadi narasumber dalam acara Diskusi Ekonomi Bulanan Jurusan IESP dengan tema Bagaimana Menjadikan APBD sebagai ‘Driver’ Perekonomian Regional pada Senin 25 Februari yang lalu. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan mengarahkan alokasi belanja APBD 2019 berdasarkan prioritas yang menjadi fokus perencanaan pembangunan 2019. Hanya saja menurut Yunani, Pemerintah Daerah sekarang menghadapi problem sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemandirian dan menurunkan proporsi alokasi belanja rutin yang masih cukup besar.
Untuk menghadapi era disrupsi, menurut dosen Jurusan IESP Dr. Rijali, diperlukan roadmap pengembangan UMKM yang mencakup jangka pendek dan jangka panjang, serta harus didukung oleh semua pihak. Ia menilai kondisi UMKM sekarang seperti mati suri. UMKM kita tidak disiapkan untuk menghadapi era disrupsi dimana penetrasi asing dalam bentuk produk impor dapat begitu cepat dan masif melalui toko online.