Pada 20-21 Juli 2019 yang lalu, enam orang Dosen Jurusan IESP mengikuti workshop evaluasi dampak kebijakan pembangunan di Banda Aceh. Workshop yang masing-masing diorganisir J-PAL Southeast Asia, TNP2K, dan Australian National University-Indonesia Project tersebut memberikan banyak manfaat bagi para peserta. Bagaimana manfaatnya menurut dosen Jurusan IESP yang mengikutinya? Berikut adalah beberapa informasi yang berhasil dihimpun.

Menurut Rizali, Workshop yang diorganisir J-PAL Southeast Asia memberikan informasi baru bahwa pengukuran dampak kebijakan dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya indikasi korupsi dalam kebijakan publik. Melalui proses lahirnya kebijakan yang transparan dan kemudian disertai adanya evaluasi dampak kebijakan untuk mengetahui apakah masyarakat yang menjadi tujuan kebijakan memperoleh dampak positif atau tidak. Sementara itu Yunita Sopiana memaparkan workshop yang diikutinya memberikan gambaran bahwa kebijakan pemerintah dapat dilakukan secara lebih tepat dan lebih efisien dengan adanya pengukuran evaluasi dampak kebijakan. Hal senada juga diperoleh Noor Rahmini.

Dalam Workshop yang diselenggarakan oleh TNP2K, Hidayatullah Muttaqin memaparkan adanya sejumlah teknik penelitian yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak kebijakan pembangunan. Dengan terukurnya dampak kebijakan, maka policy makers dapat memperbaiki perencanaan dan kebijakan pembangunan ke depannya secara lebih tepat sasaran based on evidence.

Berbeda dengan workshop yang diselenggarakan oleh J-PAL Southeast Asia dan TNP2K, workshop yang diorganisasi oleh ANU-Indonesia Project lebih menekankan evaluasi dampak kebijakan dalam bentuk contoh paper ilmiah, yaitu dengan menelaah sejumlah artikel jurnal top. Hal ini dipaparkan oleh Ahmad Yunani, bahwa ia mendapatkan banyak pengalaman dari narasumber tentang bagaimana memahami dan menganalisis isi tulisan jurnal yang membahas evaluasi dampak kebijakan. Dari workshop ini Ahmad Yunani juga mendapatkan teknik bagaimana berpikir kritis atas hasil-hasil riset dan model-model ekonomi yang digunakan. Hal ini diakui oleh Dewi Rahayu bahwa ia memperoleh perspektif baru bagaimana menelaah tulisan ilmiah yang publish di jurnal top. []

