Profil Ekonomi dan Dampak Pandemi Covid-19
Laporan Hasil Survei Mahasiswa Jurusan IESP
Oleh: Hidayatullah Muttaqin
Sudah tiga bulan pandemi Covid-19 di Indonesia berlangsung. Sudah lebih dari 28 ribu kasus positif dan 1698 meninggal di tingkat nasional per 3 Juni 2020. Sementara kasus positif di Kalimantan Selatan sudah menembus angka 1000. Di samping masalah kesehatan, kondisi perekonomian juga semakin memburuk. Hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah bagaimana dampak wabah ini terhadap mahasiswa Jurusan IESP? Dalam seri laporan hasil survei ini, Jurusan IESP akan menyampaikan gambaran ringkas dampak pandemi terhadap ekonomi keluarga mahasiswa.

Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, mayoritas mahasiswa Jurusan IESP memperoleh nafkah dan biaya pendidikan dari orang tuanya dan hanya satu persen saja yang membiayai hidupnya sendiri. Sebanyak 75 persen mahasiswa dinafkahi oleh BAPAK dan 20 persen oleh IBU saja. Selebihnya dibantu oleh KAKAK, KAKEK/ NENEK, dan PAMAN/ BIBI. Sedangkan rata-rata jumlah anggota keluarga mahasiswa yang tinggal dalam satu rumah yang harus dinafkahi adalah sebanyak empat orang, baik yang berdomisili di dalam kota maupun di desa.
Hampir setengah dari keluarga yang memberi nafkah mahasiswa memiliki pendapatan dan pengeluaran bulanan antara satu juta sampai dengan tiga juta rupiah per bulannya. Pada rentang satu juta sampai dengan dua juta rupiah, proporsi pengeluaran lebih besar dibandingkan pendapatan. Ini mengindikasikan adanya ketidakcukupan pada keluarga mahasiswa dalam rentang tersebut.

Dari sisi latar belakang kegiatan ekonomi, terdapat perbedaan sektor pekerjaan yang mencolok antara mahasiswa yang berdomisili di kota dengan di desa. Ada sekitar 46 persen mahasiswa yang daerah asalnya adalah desa di mana 33 persen pekerjaan keluarga yang memberi nafkah bekerja di sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan. Kegiatan ekonomi utama lainnya adalah sektor perdagangan (27%) dan jasa (15%). Adapun mahasiswa yang berdomisili di kota, sektor ekonomi paling besar adalah perdagangan (25%), jasa (22%) dan pemerintahan/ pertahanan/ dan keamanan (17%).

Kemudian bagaimanakah dampak pandemi terhadap ekonomi keluarga mahasiswa? Ada sekitar 68 persen keluarga pemberi nafkah mahasiswa yang mengalami penurunan pendapatan selama pandemi di bulan Ramadhan dan hanya 12 persen yang menyatakan tidak terdampak, selebihnya atau 20 persen tidak mengetahui
Dari 68 persen yang terdampak Covid-19, terdapat 18 dan 15 persen yang mengalami penurunan hingga 50% dan lebih dari 50%. Ini menunjukkan mayoritas ekonomi keluarga mahasiswa “terpukul” oleh Covid-19. Semakin lama pandemi dapat membuat semakin berat kondisi perekonomian keluarga mahasiswa. Karena itu sangat penting sekali ada kebijakan untuk meringankan beban mahasiswa.
Salah satu biaya hidup mahasiswa yang meningkat adalah biaya paket data untuk koneksi internet. Konsumsi paket data mahasiswa meningkat seiring dengan beralihnya cara perkuliahan dari kuliah tatap muka menjadi kuliah daring atau kuliah online. Meringkan beban paket data ini akan sangat membantu mengurangi tekanan ekonomi yang sedang dihadapi oleh keluarga mahasiswa tersebut. Bagaimana peningkatan konsumsi internet mahasiswa selama berlangsungnya kuliah online? In sya Allah akan dibahas dalam seri laporan hasil survei berikutnya. [Taqin]
