Yes, We are in The Same Storm, But We are not in The Same Boat

Oleh: Syahrituah Siregar

Syahrituah Siregar

Viral video amatir tragedi seorang pedagang cabe di Sulawesi Tengah yang tidak terima dilarang melewati pelintasan pos PSBB antar kabupaten. Ia merasa diperlakukan tidak adil terlebih juga mendapat serangan pukulan dan terjangan dari oknum petugas. Terlepas dari masalah ketidak adilan perlakuan yang diterimanya, secara gamblang ini menunjukkan adanya hasrat yang besar dari sekelompok masyarakat untuk terus melakukan kegiatan ekonominya ditengah wabah Covid-19. Kadang kita ikut mencela orang-orang yang tidak mau patuh pada peraturan pembatasan aktifitas keluar rumah ini. Tetapi perlu disadari pula ternyata banyak orang yang terpaksa melakukannya karena tuntutan hidup.

Benar “pepatah baru” yang jadi judul tulisan ini. Selama ini pepatah yang kita percayai adalah “We are in the same boat” yang dengannya kita berharap semua orang berbuat sama atas masalah bersama. Kita semua mesti mengurung diri di rumah agar bisa memutus mata rantai penyebaran badai virus ini. Jika melanggarnya maka akan menjadi penyebab gagalnya upaya dan pengorbanan yang telah dilakukan banyak orang lainnya. Akan tetapi perlu disadari bahwa “perahu tiap orang berbeda.

Kalau yang dia naiki hanya sampan kecil apalagi “reot” dan tua niscaya badai ini sangat mengguncang dan membahayakan hidupnya dan keluarganya. Ia tidak bisa berdiam diri saja di rumah untuk menghidari risiko penularan virus karena harus mencari mencari uang untuk menyambung penghidupan.

Perbedaan sikap masyarakat dalam menghadapi persoalan ini secara ekonomis sangat dapat dimengerti. Kita kenal fenomena “backward bending supply curve of labor” yang menunjukkan pilihan individual atas besaran waktu luang yang dikorbankan untuk bekerja dengan tingkat upah yang diterima.

Intinya, ketika upah sudah tinggi maka pada tingkat tertentu seiring dengan kenaikan tingkat upah seseorang justru akan mengurangi jam kerjanya. Keinginannya untuk bekerja dengan tingkat upah yang lebih tinggi menjadi berkurang digantikan dengan keinginannya untuk memanfaatkan kenikmatan waktu luang dengan tidak bekerja. Upah dan pendapatan yang sudah tinggi menyebabkan penghargaan atas “leisure-time” menjadi lebih tinggi.

Dalam kasus wabah corona ini ketika masyarakat dihadapkan pada pilihan menjaga kesehatan atau mencari pendapatan maka akan berbeda-beda prioritasnya berdasar kondisi yang dimiliki. Orang yang memiliki tabungan cukup atau berpendapatan tetap tentu akan memilih mengutamakan kesehatan ketimbang keluar rumah untuk bekerja mencari pendapatan. Hal sebaliknya, orang yang tidak punya tabungan atau yang berpendapatan harian tentu memprioritaskan mencari uang dengan keluar rumah demi memenuhi kebutuhannya.

Disinilah semua hal perlu dibuktikan demi keberhasilan penanganan pada masalah bersama. Rasa kepedulian orang yang berpunya kepada sesama perlu dibuktikan. Kualitas kepemimipinan dalam memastikan kebijakannya berjalan dan menyelesaikan persoalan perlu dibuktikan. Masyarakat tidak cukup hanya disuruh patuh pada pembatasan tanpa adanya penyangga atau jaminan yang memadai. Jika tidak demikian mereka akan berfikir sama saja dirumah saja atau keluar rumah sama-sama maut menanti. Wallahu a’lam.[]

Syahrituah Siregar adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB ULM. Profil penulis dapat dibaca di sini https://iesp.ulm.ac.id/syahrituah-siregar.