Pentingnya e-Zakat di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Sri Maulida, S.E.Sy., M.E.I.

Pandemi Covid-19 mengharuskan seluruh aspek kehidupan berjarak, baik dalama artian jarak sebenarnya maupun jarak dalam artian membatasi kegiatan bertatap muka. Oleh karenanya seluruh aspek kehidupan memulai tatanan baru seperti aspek ibadah, pendidikan, kesehatan, bisnis, transportasi, ekonomi dan aspek lainnya.

Beberapa hal yang bersifat syariah muamalah dapat dengan mudah disesuaikan karena pada hukum dasarnya “semua hal baru dalam syariah muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang melarangnya” sedangkan dalam aspek ibadah berlaku “ibadah baru dilarang dilakukan kecuali ada dalil yang membolehkannya” sehingga dalam ranah ibadah perlu adanya proses pengambilan hukum oleh ulama dengan cara ijtihad.

Dalam hal pembayaran zakat melalui lembaga, pada dasarnya lebih baik dilaksanakan secara tatap muka antara amil dengan muzakki, agar amil dapat langsung mendoakan muzakki. Bahkan dalam kepercayaan tradisional sebagian ulama mempunyai pandangan bahwa zakat hukumnya sah ketika terjadi pertemuan antara pemberi dan penerima dengan membaca doa niat dan bersalaman. Selain itu, membayar zakat dengan tatap muka dan akad antara muzakki dan amil agar zakat yang dikeluarkan lebih berkah.

Namun, seiring perkembangan sosiologi hukum masyarakat dan dalam hal menanggapi perubahan sosial tersebut, hukum berkembang menjadi bahwa zakat dapat dibayarkan secara online. Karena syarat sahnya zakat adalah adanya niat dan Tamlik (pemindahan kepemilikan harta kepada pemiliknya), sehingga cara membayarnya tidak menjadi masalah terhadap hukumnya baik dilakukan secara langsung maupun dibayar secara online atau dapat disebut dengan e-zakat.

Pada masa pandemi ini pemerintah melalui Kementerian Agama mengeluarkan surat edaran Menteri Agama Nomor 6 tahun 2020, dimana salah satu isinya untuk meminimalkan pengumpulan zakat melalui kontak fisik, tatap muka secara langsung dan membuka gerai di tempat keramaian. Sebagai gantinya adalah dilakukan sosialisasi pembayaran zakat melalui layanan jemput zakat dan transfer layanan perbankan. Sehingga hal tersebut mempercepat proses digitalisasi dalam proses pengelolaan zakat. Menurut data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sejak tahun 2016 hingga tahun 2020 zakat yang dihimpun melalui platform digital terus meningkat bahkan pada tahun 2019 pengumpulan zakat digital mampu melalui target BAZNAS. E-zakat merupakan instrument ibadah yang sangat cocok di masa pandemi ini, dimana masyarakat yang ingin membayar zakat tidak perlu datang ke mustahik atau Lembaga zakat. Cukup dari Rumah ibadah terlaksana dan anjuran pemerintah juga ditaati.

Lalu bagaimana e-zakat dapat terlaksana dengan baik?

Hemat saya perlu ada nya dukungan dari berbagai pihak. Pertama, dari Lembaga pengelola zakat itu sendiri yang memberikan edukasi kepada muzakki untuk melakukan pembayaran zakat secara online. Kedua, pemerintah bekerja sama dengan ulama untuk memberikan edukasi pentingnya e-zakat dimasa pandemi ini dalam rangka mengurangi penularan virus covid-19. []

Sri Maulida, S.E.Sy., M.E.I. adalah dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan yang berspesialisasi dan menjadi pemerhati Ekonomi Islam