Oleh: Dessy Maulina
Pandemi virus covid 19 yang telah menyebar ke seluruh dunia berdampak sangat besar. Imbas dari pendemi ini menghantam seluruh lapisan masyarakat, pada seluruh sektor baik informal, formal, orang kaya maupun miskin. Selama satu tahun sejak munculnya virus tersebut sangat memukul pula seluruh perekonomian di Indonesia. Meningkatnya pengangguran karena penurunan kegiatan industri, transportasi, pendidikan, dan sebagainya mengakibatkan perekonomian masyarakat tersendat terutama dibidang rumah tangga, UMKM, perusahaan dan finansial, namun yang menjadi perhatian besar disini adalah pendapatan keluarga, sebagai ujung tombak perekonomian dunia.
Ekonomi keluarga memiliki peranan penting bagi perekonomian secara makro, karena dari ekonomi keluarga perputaran uang dapat berjalan dengan lancar. Permintaan dan penawaran uang dan barang seperti kita ketahui berawal dari ekonomi keluarga. Ternyata di saat terjadi pandemi ini yang sangat terdampak besar yaitu ekonomi keluarga, terutama untuk keluarga-keluarga menengah ke bawah yang hanya mengandalkan atau menggantungkan hidupnya pada pendapatan harian.
Dampak tersebut dimulai dengan adanya kebijakan Pemerintah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah seperti Physical distancing, social distancing ,PSBB serta PPKM yang sedang berjalan untuk mencegah penyebaran Covid-19, sehingga perputaran ekonomi juga berkurang. Kegiatan-kegiatan ekonomi menurun dan pengurangan tenaga kerja semakin meningkat. Dalam hal ini, banyak kepala rumah tangga yang tidak lagi mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai pendapatan. Bantuan Pemerintah terbatas waktunya sebagai contoh bantuan yang hanya diberikan selama 3 bulan saja, sedangkan setelah itu, keluarga kembali harus dapat bertahan disaat pandemic ini.
Ketika pandemi terjadi, mereka yang bekerja di sektor ini (UMKM), terutama ibu rumah tangga, juga merasakan dampak yang besar, karena kurangnya pembeli/konsumen. Turunnya nya jumlah konsumen, karena sebagian besar konsumen mengurangi pengeluaran rumah tangga yang disebabkan pendapatan konsumen yang bekerja di sektor lain menurun sebagai dampak dari pandemi ini. Dengan kata lain, telah terjadi efek multiplier yang besar terhadap penurunan tingkat pendapatan masyarakat
Beberapa bantuan, selain bantuan dari Pemerintah, telah diterima oleh sebagian besar keluarga. Walaupun demikian, mereka tidak dapat sepenuhnya hanya tergantung dari bantuan tersebut, karena bantuan bersifat sementara. Keluarga harus memulai kembali untuk memperoleh pendapatan, Hanya saja, untuk memulai pekerjaan mereka kembali dan untuk memperbaiki ekonomi keluarga menjadi hal yang tidak mudah. Banyak kendala dihadapi, antara lain perlu modal kembali, adanya kepercayaan mitra, pemasaran di saat pandemic dan sebagainya. Selain itu, peran pemerintah sangat besar untuk dapat menghidupkan kembali perekonomian keluarga dan masyarakat.
Ketahanan ekonomi keluarga dipahami sebagai keadaan dinamis suatu keluarga mengenai kegigihan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan, ancaman, dan hambatan serta gangguan baik dari eksternal maupun dari internal, secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan perekonomian keluarga. Sebagai unit terkecil dari sebuah negara, keluarga dengan ketahanan ekonomi yang kuat akan menciptakan dasar ekonomi negara yang kuat pula. (wulandari, 2017)
Untuk itu, perlu strategi agar keluarga bisa bertahan menghadapi pandemi. Pakar Ekonomi Keluarga IPB Istiqlaliyah (Kompas.com, 2020) menggagas diperlukannya coping strategy dimana keluarga harus berupaya untuk memecahkan masalah dengan mengubah perilaku, lingkungan serta pengendalian emosi. Beberapa hal yang dapat dilakukan dengan mengurangi jajan, mengurangi jenis lauk, bahkan bisa dengan mengurangi frekuensi makan.
Selain itu menjaga ketahanan ekonomi selama masa pandemi dapat dilakukan dengan menambah sumber pendapatan keluarga agar pendapatan keluarga meningkat, salah satunya memulai bisnis keluarga dengan dengan menggunakan sarana digital atau yang sudah memiliki bisnis tetapi pemasarannya masih konvensional bisa pula dilakukan secara digital.
Ketika pandemi ini berlangsung usaha yang dapat dilakukan untuk menambah pendapatan dengan beberapa usaha rumahan yang berbasis digital untuk pemasarannya dengan tetap menjaga prokes yang benar ketika pengantaran pesanan sampai ke pelanggan antara lain ;1) Usaha kuliner berupa lauk pauk dengan sistem siap diantar; dengan memanfaatkan media sosial untuk pemasarannya 2) Usaha rempah tradisional, jamu, atau herbal yang fresh dan siap antar; 3) Bahan baku makanan dengan sistem siap antar; 4) Usaha pembuatan master kain yang unik atau Alat Pelindung Diri (APD); dan 5)Usaha pulsa, listrik, telepon dan internet. (Irawaty, 2020). Selain itu tentu lah peran pemerintah bukan hanya bersifat bantuan saja tapi berupa penyuluhan tentang perbaikan ekonomi keluarga yang terdampak karena pandemi agar ekonomi keluarga tetap terus dapat bertahan.
Referensi
Irawaty, D. K. (2020). Pengelolaan Keuangan Keluarga pada Era Pandemik Covid-19. Jakarta: Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional
Kompas.com. (2020). Pakar IPB: 55,5 persen Keluarga di Indonesia Turun Penghasilan Selama Pandemi. Dipetik maret 2021, dari www.kompas.com:
Wulandari, P. K. (2017). Inovasi Pemuda dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi Keluarga (Studi di Kampung Warna-Warni Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang). Jurnal Ketahanan Nasional, Vol.23(No.3 Edisi Desember), 300-319
