Oleh: Dr. Sri Maulida
Peneliti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kota Banjarmasin
Deflasi yang terjadi di Hulu Sungai Tengah (HST) sebesar -1,06% pada Februari 2025 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,16 menunjukkan dinamika ekonomi daerah yang perlu dicermati. Penurunan harga yang menyebabkan deflasi y-on-y ini dipicu oleh turunnya tiga indeks kelompok pengeluaran utama, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,26%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 17,14%; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,22%. Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks, seperti kelompok pakaian dan alas kaki (0,60%), perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,71%), kesehatan (0,40%), transportasi (0,46%), rekreasi, olahraga, dan budaya (3,46%), pendidikan (3,41%), penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,66%), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (6,99%).
Secara month-to-month (mtm), Februari 2025 mencatat deflasi sebesar 0,81%, sementara secara year-to-date (ytd), deflasi mencapai 1,26%. Data ini mengindikasikan bahwa penurunan harga terjadi secara konsisten sejak awal tahun, dengan tekanan terbesar datang dari sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan efisiensi biaya pada sektor tersebut atau penurunan permintaan akibat kebijakan ekonomi lokal yang diterapkan oleh pemerintah daerah.
Pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga honorer di lingkungan Pemkab HST turut berdampak pada daya beli masyarakat. Dengan hilangnya sumber pendapatan bagi sejumlah rumah tangga, konsumsi masyarakat pun menurun. Ketika daya beli berkurang, permintaan terhadap barang dan jasa ikut melemah, yang akhirnya menekan harga-harga di pasar. Selain itu, penundaan sejumlah program pemerintah akibat kebijakan efisiensi anggaran juga berkontribusi terhadap perlambatan peredaran uang di masyarakat. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, maka pemulihan ekonomi akan semakin sulit dicapai.
Dampak deflasi tidak boleh diremehkan karena dapat menciptakan lingkaran setan dalam perekonomian. Ketika harga turun, pelaku usaha cenderung menunda investasi karena ekspektasi keuntungan yang lebih rendah. Akibatnya, produksi berkurang, lapangan kerja menyusut, dan pendapatan masyarakat semakin tertekan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, situasi ini bisa memicu perlambatan ekonomi yang berkepanjangan. Oleh karena itu, perlu ada langkah konkret dan strategis untuk mengatasi tekanan deflasi ini agar tidak semakin memperburuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat HST.
Salah satu faktor yang turut berkontribusi terhadap deflasi di HST adalah kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50%. Kebijakan ini memang memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mengurangi beban pengeluaran, terutama di tengah kondisi ekonomi yang lesu. Namun, di sisi lain, penurunan tarif listrik juga dapat menyebabkan efek deflasi karena menurunkan biaya produksi bagi pelaku usaha. Ketika biaya produksi turun tetapi daya beli masyarakat belum mengalami peningkatan yang signifikan, maka harga barang dan jasa pun cenderung stagnan atau bahkan turun lebih lanjut. Oleh karena itu, kebijakan ini harus diimbangi dengan langkah-langkah yang mendorong konsumsi dan investasi agar ekonomi tetap bergerak.
Untuk mengatasi dampak deflasi ini, pemerintah daerah dapat mempercepat realisasi program-program yang tertunda serta menerapkan kebijakan stimulus ekonomi bagi UMKM. Program padat karya bisa menjadi solusi jangka pendek untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, investasi sektor riil dan insentif fiskal bagi dunia usaha dapat membantu meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja baru. Diversifikasi ekonomi juga menjadi langkah strategis dalam jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor konvensional seperti pertanian dan perdagangan tradisional. Mendorong inovasi dan digitalisasi dalam sektor perdagangan serta mengembangkan ekosistem industri kreatif juga bisa menjadi strategi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi daerah.
Ramadhan: Pendorong Inflasi
Koordinasi dengan pemerintah pusat serta kebijakan moneter dari Bank Indonesia juga perlu diperhitungkan dalam merespons kondisi ini. Dengan strategi yang tepat, diharapkan ekonomi HST dapat kembali stabil dan tumbuh secara berkelanjutan. Selain itu, dengan memasuki bulan Ramadan, diharapkan akan terjadi peningkatan daya beli masyarakat yang dapat mendorong permintaan barang dan jasa. Kenaikan konsumsi selama Ramadan dapat menjadi faktor pendorong inflasi yang tetap terjaga, sehingga memberikan keseimbangan bagi perekonomian daerah. Momentum Ramadan harus dimanfaatkan dengan baik untuk menggerakkan perekonomian melalui peningkatan transaksi di sektor perdagangan dan jasa. Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga agar manfaat Ramadan terhadap perekonomian benar-benar optimal.
Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan semua pihak, tantangan deflasi di Hulu Sungai Tengah dapat dihadapi secara efektif. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih stabil dan produktif. Jika langkah-langkah ini diterapkan dengan baik, maka pemulihan ekonomi bukan hanya menjadi harapan, tetapi bisa menjadi kenyataan yang berdampak positif bagi seluruh masyarakat HST.
